Artikel

Padungku, Perayaan Paling Ditunggu

Paling sibuk kalo Padungku, satu hari sebelumnya udara sudah dipenuhi asap, Tentena seperti terbakar. Mama Denis, warga kelurahan Pamona menggambarkan kesibukan itu mulai dari mempersiapkan kelapa sehari sebelumnya, mencari daun pisang dan bambu muda, membutuhkan perjuangan lebih untuk mendapatkan bahan-bahan ini saat menjelang Padungku. Ketiga item itu adalah bahan utama membuat Inuyu selain ketan.

Yustinus Hokey, budayawan Poso menjelaskan, Padungku dirayakan setelah para petani menyimpan rapi semua alat-alat pertaniannya seperti cangkul, sabit dan ani-ani. Setelah itu barulah dimusyawarahkan kapan makan bersama itu dilaksanakan. Sejatinya Padungku ini adalah ungkapan sukur petani atas karunia alam semesta. Semua rumah diwilayah yang merayakan membuka rumahnya, siapapun yang datang silahkan makan sepuasnya.

Ragam makanan yang tersedia saat merayakan panen ini kini tidak lagi sekedar Inuyu dan Winalu(beras dibungkus daun lalu dikukus). Pengaruh masakan daerah lain hingga mancanegara kini juga sudah tersaji dirumah-rumah saat Padungku, mulai dari Klapatart, Brownis sampai es cream dengan mudah kita temukan bersanding dengan bakso, kari hingga opor ayam. Pengaruh masakan asing ini adalah keniscayaan seiring makin kurangnya jumlah petani. Yustinus Hokey dalam sebuah kesempatan mengungkapkan pentingnya mendiskusikan kembali makna perayaan ini. Jika Padungku disebut sebagai ungkapan sukur para petani pada alam maka apakah para pegawai atau pedagang juga harus merayakannya? kalau merayakan, hasil apa yang mereka rayakan?

Sebagian pegawai memang ada yang juga memiliki kebun dan sawah, namun sebagian lagi tinggal mengandalkan gaji untuk kehidupan selanjutnya.

Tapi perdebatan itu baiknya disimpan saja, sebab toh Padungku membuat semua orang bergembira, baik petani maupun bukan semua turut merasakan kebaikan tanah dan yang tidak kalah penting, dia mampu membuat roda ekonomi makin cepat berputar. Bayangkan saja, setiap rumah membeli paling sedikit 1 kilo daging, 2 ekor ayam, ikan, sayur, cabe, itu baru menu utama, belum bahan-bahan pembuat kue. Tiba-tiba selama 2 hari terjadi kenaikan harga karena pasokan di pasar tidak mencukupi.

Sehari sebelum padungku, tanggal 5 Oktober, jalan menuju pasar Tentena macet, Polisi harus turun tangan mengatur lalulintas di depan pintu keluar masuk. Pasar yang biasanya sepi itu selama 2 hari menjadi pusat perdagangan yang padat. Stok sayur hingga daun dan kelapa beberapa kali harus ditambah.

Dipinggir-pinggir jalan mulai dari kelurahan Tendea-Tentena-Sangele hingga Buyumpondoli riuh oleh suara gilingan kelapa. Biasanya alat gilingan kelapa ini jarang terlihat kecuali di kios-kios atau pasar. Tapi sehari jelang Padungku, raungan mesinnya beradu dengan mesin kendaraan. Hampir tiap perempatan mesin-mesin ini terpasang. Harga kelapa parut yang hari-hari biasanya hanya 6 ribu tiba-tiba naik menjadi 7 ribu. Oh ya, di Tentena kita jarang menemukan pohon kelapa, namun dibandingkan wilayah Poso Pesisir maupun Lage yang menjadi sumber kelapa, jumlah mesin parut di Tentena jauh lebih banyak dari kedua kecamatan itu.

Padungku bukan hanya mampu membuat orang berkonsentrasi menyambutnya. Dia juga mampu menyetop perdagangan yang tidak berkaitan dengan makanan selama 2 hari. Di Tentena, toko-toko bahan bangunan dan kain tutup sejak Kamis 5 Oktober. Mungkin pemilik toko tahu, semua orang hanya berpikir belanja bahan makanan.

Mangkoni Mangkeni

Kembali ke soal makanan. Inuyu dan Winalu menjadi pemersatu ditengah serbuan menu nasional dan internasional saat Padungku. kedua makanan ini menjadi simbol perayaan. Tanpa membawa makanan ini kata orang belum sah ba Padungku. Membawa pulang makanan saat bertamu memunculkan budaya dan istilah baru di Poso, Mangkoni Mangkeni, makan dan bawa pulang. Ini juga semacam bagi-bagi hasil panen kepada tamu yang datang. Namun entah karena harus mendatangi banyak rumah, banyak yang datang akhirnya hanya meminta bungkusan makanan tanpa makan dulu, entah mengapa kebiasaan ini muncul. Mangkoni Mangkeni juga menandai makin pudarnya tradisi makan bersama, dimana orang hanya datang meminta bungkusan makanan lalu pergi.

Makan bersama juga sejatinya sudah tidak terlihat lagi disetiap Padungku. Dikatakan Yustinus, Padungku itu, semua orang membawa makanan di tempat pertemuan desa, lalu makan bersama, ada semangat komunal disana, menjadi ajang mengeratkan kekerabatan, baru setelah itu pulang kerumah masing-masing. Seiring perubahan zaman yang makin individual, kini hanya beberapa desa saja yang masih berkumpul di Baruga untuk makan bersama, Dulumai salah satunya. Warga di desa diujung selatan kecamatan Pamona Puselemba itu masih berkumpul untuk merayakan Padungku.

“Kalau mau Padungku, lebih sibuk, lebih rame dibandingkan hari besar lain seperti Natal, karena hanya tempat-tempat tertentu yang merayakan, kitorang harus siap menyambut pagi sampe tengah malam”kata Londe, warga Pamona. Apa yang dikatakan Londe memang benar, saat Padungku, desa-desa yang merayakannya harus siap menerima ‘serbuan’dari desa lain, maka dapur harus benar-benar siap. Sebab yang menyerang dari segala golongan, yang beragama apapun yang tidak, semuanya datang dan disongsong diruang tamu yang pada hari Padungku dirubah menjadi dimeja makan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button