Budaya

TMMD Turut Mempertahankan Budaya Lokal Poso”Tari Modero”

POSO,Buletinsulawesi.com-Diakhir upacara pembukaan Tentara Manunggal Membagun Desa(TMMD)(10/07). Ratusan warga Desa Doda dan sekitarnya yang berada di kecamatan Lore Tengah memadati lapangan Doda yang berada di tengah-tengah perkampungan untuk mengikuti modero masal bersama TNI hingga pegawai negeri Pemda Poso dan para tamu undangan. Meodero masal segaja dimasukan dalam rangkain Upacara TMMD untuk memperkokoh persatuan dan menjalin keakraban masyarakat dan TNI.

Selain itu juga untuk mempertahankan budaya lokal Kabupaten Poso yang kini terus diminati oleh warga luar kabupaten Poso sendiri. Kehadiran begitu banyak orang membuktikan bahwa masyarakat Poso, cinta damai, menginginkan persatuan dan kesatuan serta suka bersilaturahmi dengan siapa saja.Tarian dero adalah salah satu pesona budaya yang dimiliki oleh masyarakat Poso, Sulawesi Tengah. Tarian ini bukan hanya dilaksanaan pada pesta perkawinan yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan setempat, dan kaum muda,namun di setiap kegiatan besar selalu dimunculkan,sehingga itu TNI membantu Pemda untuk mempertahankan budaya lokal termaksud tarian modero.

Masayarakat modero dengan membentuk dua lingkaran besama-sama dengan Wakil Bupati Poso,Dandim 1307/Poso,Kasrem 132/Tadulako,Anggota DPRD Poso/Sulteng,toko adat,ibu-ibu persit serta tamu undangan lainya saling bergandegan tangan menikmati asyiknya tarian dero ditengah lapangan bersama masyarakat. Terlihat terik matahari terkesan tidak terpedulikan para pejabat bersama masyarakat dengan mendendangkan kaki kiri dan kanan yang diiringagi musik dan lagu dero.

Menurut Dandim 1307/Poso Dody Triyo Hadi ,Giat Tari modero saat upacara pembukaan TMMD sebagai bentuk tarian budaya lokal di Poso yg memiliki nilai – nilai yang sangat dalam yaitu, bentuk bahwa masyarakat Poso memiliki rasa persatuan dan kebersamaan yang tingg. Saling menghargai dalam perbedaan sesuai degan moto masyarakat Poso “Sintuwu Maroso” yaitu Bersatu Kita Kuat

Pada mulanya berkumpul gadis-gadis cantik pilihan untuk mempersilahkan para undangan saling berpegang tangan membentuk lingkaran. Diiringi bunyi gong, seruling, dan gendang khas Poso atau musik berirama chacha dan dangdut, gerakan modero spontan terbangun. Kaki kiri diayunkan ke belakang kemudian kaki kanan melangkah dua kali serong kanan ke depan, lalu kembali kaki kiri satu langkah ke belakang dan seterusnya sampai melahirkan keharmonisan gerakan.

Guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako Palu Prof Dr. H. Juraid mengatakan ada dua jenis dero, yakni dero asli (khusus) dan dero umum. Dero asli adalah tarian yang diciptakan untuk acara khusus dan resmi yang awalnya dikenal dengan sebutan “moende”. Tarian ini dipertunjukkan dalam acara-acara penyambutan tamu sebagai bentuk pernyataan, penghormatan dan penghargaan atas kesediaan tamu mengunjungi daerah ini.

Modero asli juga dipertandingkan dalam perayaan hari-hari besar nasional, regional maupun lokal dan hari-hari besar keagamaan. Jumlah pemain maksimal 16 orang dan minimal 8 orang, terdiri atas dua orang pria penabuh gendang dan gong, dua orang pemain kanta (cakalele/perisai), 12 orang penari dan seorang sebagai Tadulako (pemimpin). Tadulako bertugas mengontrol jalannya tarian agar tampak teratur, santun, dan bersahaja.

Pesona Budaya Poso

Sedangkan modero umum adalah tarian bersifat massal. Umumnya dilaksanakan berhubungan dengan berbagai pesta dan perayaan seperti perkawinan dan pesta panen (padungku), perayaan hari ulang tahun kabupaten, provinsi, dan HUT Kermerdekaan RI.

“Modero umum menggambarkan ucapan syukur dan perasaan gembira serta persahabatan, setelah perayaan-perayaan atau pesta dilaksanakan,” ujar Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Tengah itu.

Baik tarian dero asli maupun dero umum, sama-sama diiringi tabuhan gendang dan gong, serta lagu-lagu daerah yang diselipkan dengan pantun-pantun yang disebut “kayori”.
Keserasian gerakan dengan irama gendang dan gong serta lagu yang dinyanyikan dengan selipan pantun-pantun jenaka itu membuat para penari larut dalam kegembiraan, sehingga kegiatan modero yang biasanya dimulai pada pukul 21.00 itu bisa berlangsung sampai fajar menyingsing, ujar Juraid.

Modero umum kini semakin menarik karena telah melibatkan alat-alat musik moderen seperti keyboar atau musik elekton dimana semua penari ikut menyanyikan lagu-lagu daerah yang liriknya merupakan pantun-pantun yang umumnya berbicara mengenai persahabatan, persaudaraan, percintaan, dan pernikahan.

“Semakin nyaring dan kompak peserta menyanyikan lagu-lagu dero tersebut, semakin meriah acara tersebut,” ujar Oscar Lalundo, seorang seniman pencipta lagu-lagu dero dari Morowali Utara.

Makna Dero

Modero memiliki banyak makna, mulai dari makna religus, sosial, ekonomi sampai hiburan. Tari dero asli yang disebut “moende”, menurut Jurai, pada hakekatnya adalah untuk memuja dewa pencipta alam semesta serta ungkapan rasa syukur kepada-Nya.
Di sisi sosial, modero menjadi media komunikasi di mana semua orang yang datang ketempat modero itu memiliki kesempatan membangun interaksi sosial yang terbuka, fleksibel, spontan, jujur, dan tulus.Ketika seseorang ikut modero, katanya, ia hanya perlu pamit dengan sopan sambil menyentuh dua tangan peserta modero yang sedang berpegangan tangan satu sama lain. Kemudian dengan tanpa ada basa basi, tanpa ada pertanyaan mengenai maksud atau identitas, kedua tangan yang berpegangan, entah pria dengan pria, wanita dengan wanita maupun wanita dengan pria, akan dengan spontan terlepas dan seseorang yang pamit itu segera masuk dan larut dalam modero.

Tarian dero juga kini memiliki fungsi ekonomi, baik modero asli maupun modero umum. Yang dikomersilkan bukan pertunjukan tariannya, tetapi lagu-lagu yang dinyanyikan saat modero.Rekaman musik dan lagu modero kini sudah beredar luas dalam bentuk kaset, CD dan DVD dengan menggunakan berbagai jenis bahasa daerah, karena sudah menjadi ladang bisnis yang menguntungkan bagi para produsernya.

Sedangkan di sisi hiburan, modero sebagai salah satu bentuk seni musik dan gerak tari, mempunyai nilai berdaya hiburan cukup signifikan bagi para pendukungnya. Irama ketukan gendang, gong yang ditabuh dengan teratur, konsisten, dan tetap dengan variasi-variasi indah, atau alat musik modern yang diringi pantun-pantun jenaka aka melahirkan nuansa-nuansa yang mampu mengubah hati yang gundah gulana menjadi ceria dan meriah.

“Suasana ini semakin membangkitkan semangat, ketika gerak badan para peserta modero berayun bersama dengan langkah riang, menjadi satu kesatuan yang menghasilkan harmoni musik yang indah, bersemangat dan riang, sehingga di tengah modero, yang tampak adalah kegembiraan, kesukacitaan, kesenangan, dan kebersamaan,” ujarnya.

Karena itu, modero harus dilestarikan, ditumbuhkembangkan sesuai perkembangan dunia seni musik dan musik moderen, tanpa mengubah unsur-unsur dasarnya.Selain menjadi salah satu tempat manusia menikmati keseimbangan psikologis, kayori-kayori (pantun) dalam modero menjadi wahana penyampai pesan-pesan moral etik, yang menekankan kesetaraan, persaudaraan, dan kebersamaan, ketika semua peserta dari berbagai kalangan, status sosial, tua-muda, pria-wanita, meyatu dalam satu lingkaran bulat dengan berpegangan tangan satu sama lainnya.(FIR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button