Tak Berkategori

Guru di Poso Rumuskan Sistem Deteksi Dini Ekstrimisme

POSO,Buletinsulawesi.com- Puluhan guru dari sekolah-sekolah SMA/sederajat di kabupaten Poso berdiskusi merumuskan sistem deteksi dini terhadap bahaya ekstrimisme yang gejalanya mulai menguat dikalangan pelajar beberapa tahun belakangan. Kegiatan yang difasilitasi oleh Maarif Institut ini dilaksanakan di Dodoha Mosintuwu, Tentena, Kamis 16 Agustus kemarin. Sebelumnya kegiatan serupa juga dilaksanakan di kota Poso.

Dalam diskusi yang dipandu Pipit Aidul Fitriana dari Maarif Institut ini, narasumber Dr Zuly Kodir, salah satu peneliti senior Maarif Institut menyebutkan tiga isu yang sedang menjadi banyak pembicaraan di tanah air.

Yang pertama adalah radikalisme, lalu Ekstrimisme dan ketiga terorisme. Para guru diajak untuk merumuskan pengertian ketiga istilah itu dan mengenal ciri-cirinya.

Diskusi menjadi hidup karena Zuly Kodir mampu membuat para guru lebih terbuka memberikan pendapatnya tentang 3 isu ini. Seperti yang dikemukakan salah seorang guru tentang pengalaman mendapat perlakuan yang menurutnya kurang mengenakkan ketika bertemu dengan beberapa orang yang dalam pandangan dia sangat tertutup atau ekslusif.“Ketika kaki kami bersentuhan, dia langsung mengelap kakinya”.Menjawab cerita itu, Zuly Kodir, menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah ajaran agama, khususnya Islam, namun penafsiran yang dilakukan satu kelompok. Kata Zuly Kodir, banyak sekali kelompok-kelompok yang menafsirkan kitab suci seperti itu.

Selain memberikan banyak informasi mengenai pengalaman berinteraksi dengan kelompok berbeda, para guru juga mendapatkan penjelasan mengenai kelompok-kelompok dalam Islam yang memiliki penafsiran berbeda-beda terhadap suatu ajaran. Bahkan kata Zuly Kodir, dalam soal salaman saja sudah banyak penafsiran yang berbeda.

“Sehingga kalau ada yang menolak bersalaman dengan kita, itu biasa saja memang ada kelompok yang punya penafsiran begitu di dunia ini”.

Diskusi juga menyentuh mengenai bagaimana ekstremisme itu menyebar dikalangan remaja lewat guru-guru agama, politisi, ceramah hingga para ustadz. Karena itu para guru merumuskan pula beberapa solusi untuk mengatasi situasi yang mengkhawatirkan ini antara lain, membangun pemahaman yang kuat agar setiap orang menerima perbedaan, setiap orang bisa menerima kritik, ada dialog antar agama, ada kegiatan bersama yang rutin dilaksanakan, terus menjalin silaturahmi dan mendorong lahinya kebijakan pemerintah pro keberagaman.

Pipit Aidul Fitriani kepada Bambari Lipu menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan Maarif Institut di Poso untuk menjadi bahan belajar bagi mereka dalam menyusun langkah-langkah menghadapi menguatnya ekstremisme ditengah masyarakat, khususnya hari-hari terakhir di wilayah Jawa. Menurut Pipit, mereka melihat Poso sebagai salah satu daerah yang pernah dilanda konflik namun bisa kembali rukun dalam waktu cepat karena masyarakatnya terbuka terhadap perbedaan. Hal ini justru yang sedang meredup di tanah Jawa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button