Pemerintahan

Rajut Toleransi Perkuat NKRI 

POSO,Buletinsulawesi.com- Bertempat di Balai Diklat Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia Kabupaten Poso dilaksanakan Forum Diskusi Publik, dengan tema “Rajut Toleransi Perkuat NKRI”(25/7). Kegiatan ini merupakan Sinergitas Antar Kementrian dan Lembaga, kerjasama antara KOMINFO, BNPT dan Pemda Kabupaten Poso. Dihadiri Wakil Bupati Poso Ir. Samsuri, M.Si sekaligus membuka kegiatan. Kementrian Komunikasi Informatika RI, menghadirkan Kepala Sub Direktorat Informasi dan Komunikasi Pertahanan & Keamanan Drs. Dikdik Sadaka, MM. Mewakili ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, adalah Kepala Bagian Data dan Pelaporan Kol. Laut Agus Purwanto.

Dikdik Sadaka mengatakan, bahwa “kegiatan ini dimaksudkan untuk kembali merajut tali kebersamaan yang sudah terikat, menjadi lebih kokoh. Karena hal itu merupakan kekuatan kita untuk memajukan daerah dan bangsa. Masyarakat yang hidup dalam kerukunan dan kebersamaan akan mewujudkan Kesejahteraan”.

Wabup Samsuri menyampaikan “kalau diingat pada masa lalu sekitar tahun 70-an masyarakat Poso yang hidup dalam pluralisme, sangat terkenal dengan kedamaian dan toleransi. Budaya kebersamaan melalui kegiatan gotong royong (mesale) sangat terlihat dalam setiap aktifitas kemasyarakatan, terutama dalam hal membantu orang lain yang akan melaksanakan hajatan besar, semua tetangga baik dekat maupun jauh, berbondong – bondong datang untuk membantu atau hanya sekedar turut meramaikan. Meskipun tidak disediakan makan minum. Namun sejak pergantian orde dari yang lama ke orde baru, mulai terjadi pergeseran sosial. Suasana perpolitikkan saat itu punya andil besar terhadap kondisi ini. Tetapi dengan keinginan bersama untuk damai dan kembali merajut kebersamaan, sehingga secara perlahan masyarakatnya mulai hidup dalam persaudaraan. Pemerintah Daerah selalu berupaya untuk menjaga situasi ini dengan memberikan program langsung yang menyentuh dan dirasakan oleh semua pihak, sehingga tidak terjadi pembedaan yang nantinya akan menjadi polemik di masyarakat. Keberadaan TNI dan POLRI yang selalu bersinergi dalam menjalankan tugasnya, mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat Poso”.

Wakil Bupati mencotohkan, upaya Pemda untuk menjaga keharmonisan ditengah masyarakat adalah “Bagaimana cara kita memperkuat organisasi FKUB, terus mengembangkan program-program yang menyentuh langsung pada harkat dan martabat masyarakat. Kita samakan presepsi untuk membangun daerah kita dengan menjunjung tinggi rasa toleransi terhadap sesama. Berkembangnya organisasi-organisasi keagamaan di Poso saat ini, semakin menambah warna pada cerita indah tentang terajutnya kembali persatuan di tana Poso, kearifan lokal mengenai budaya gotong royong perlahan-lahan mulai terjalin kembali. Semua masyarakat yang beragama membutuhkan program yang disodorkan pemerintah daerah dan semua masyarakat dilayani pemenuhan kebutuhannya sesuai kondisinya masing-masing”.

Kemudian ditambahkan oleh Wabup bahwa “Salah satu cara yang perlu dilakukan untuk mengikis radikalisme, adalah perlu dilakukan penelitian terhadap semua agama yang ada di Kabupaten Poso, mengenai hal yang seharusnya menjadi kebutuhan utama dan selalu melibatkan semua komponen dalam pengambilan keputusan bagi kemajuan bersama. Bagi anak-anak para pelaku dan terduga teroris agar terus dirangkul, disekolahkan di sekolah-sekolah keagamaan misalnya Gontor dengan beasiswa penuh sehingga rasa dendam tidak akan terus tertanam dan jika ada bisikan-bisikan radikalisme dari orang-orang yang tidak bertanggungajawab maka akan terabaikan dengan sendirinya. Dengan demikian, benih radikalisme akan terkikis dan berganti dengan semangat Nasionalisme”.

Kolonel Laut Agus Purwanto dari BNPT menyampaikan “semoga dengan semangat bersama ini, maka keberadaan kita akan semakin baik. Simbol persatuan kita adalah : Bendera Negara (Merah putih), Bahasa Persatuan (Bahasa Indonesia), Lagu Kebangsaan (Indonesia Raya), dan Mata Uang (Rupiah). Toleransi adalah saling menghargai tidak mengganggu. Intoleransi, termasuk didalamnya egoisme, memaksakan kehendak dan pikiran sempit merasa paling benar. Kita boleh meyakini Agama yang dianut secara totalitas, namun hanya untuk diri sendiri dan jangan dipaksakan kepada orang lain. Saya mengharapkan bahwa kita yang hadir disini saat ini, menjadi duta-duta perdamaian. Minimal dalam lingkup keluarga untuk kedamaian di Poso yang kita cintai ini. Jika ada perbedaan pandangan dan pemahaman maka kita akan mampu untuk menjelaskan. Bagaimana mewujudkan kerukunan umat beragama, adalah : dengan saling menghormati. “Toleransi dan solidaritas adalah kata kunci menuju kesejahteraan”.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button