Hukum dan KeamananSosial

Dua Petani Korban Salah Tembak Dimakamkan

POSO-Dua orang warga kampung Maros, dusun Sipatuo, desa Kilo kecamatan Poso Pesisir Utara Syarifudin dan Firman yang meninggal akibat penembakan yang diduga dilakukan oknum anggota Polisi di Dusun Gayatri,Desa Maranda ,Kecamatan Poso Pesisir Utara pada Selasa 2 Juni 2020 lalu akhirnya dimakamkan pihak keluarga. Syarifuddin meninggal dengan luka tembak dileher dimakamkan di pemakaman kampung Maros, dusun Sipatuo desa Kilo kecamatan Poso Pesisir Utara. Adapun Firman yang mengalami luka tembak pada bagian mulut dimakamkan dikampung halamannya desa Pattirodeceng,Kecamatan Camba,Kabupaten Maros,provinsi Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari pihak keluarga ,kronologis penembakan warga tersebut terjadi di pegunungan Kawende kilometer 9,Dusun Gayatri,Desa Kawende,Kecamatan Poso Pesisir Utara pada hari Selasa 2 Juni 2020 kemarin sekitar pukul 14:00 wita. Sebelum kejadian,dua orang korban tewas bersama empat orang temannya sedang beristirahat disebuah pondok usai beraktifitas dikebun memetik buah kopi secara berkelompok.

Saat mereka berencana untuk pulang rumah di dusun Sipatuo,hujan turun sehingga harus singgah berteduh dan tiba-tiba diberondong tembakan dari jarak sekitar 50 meter , dari rentetan bunyi senjata tersebut akhirnya mengenai dua orang yaitu syarifuddin 37 tahun dan Firman 16 tahun,,Syarifuddin tewas dilokasi kejadian,sementara Firman meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Selain dua orang korban tewas,turut serta saat kejadian dan berhasil selamat masingp-masing,Fardil,Agus,Muhajir dan Anhar.

Sugianto Kaimuddin tokoh agama Islam di Poso yang turut hadir dalam pemakaman tersebut menyayangkan adanya warga yang kembali menjadi korban oleh oknum aparat keamanan. Selain Firman dan Syarifuddin,sebelumnya pada pertengahan bulan April 2020,salah seorang warga Tambarana bernama Qidam Muhammad Alfariski juga diduga tewas dalam korban salah tembak oknum Polisi dan belum adas proses hukum yang berjalan.

Dia berharap, jika benar penembakan dilakukan oleh aparat keamanan,maka pemerintah pusat harus mengevaluasi tugas aparat di Poso. Sementara itu,Muhajir salah satu dari empat korban yang selamat ,dalam kesaksiannya mengakui dirinya diberondong senjata oleh sekelompok orang dari jarak cukup dekat yaitu sekitar 50 meter saat sedang berteduh dibawah pondok kebun. Rentetan tembakan yang beruntun membuat dirinya harus berlindung dibalik pohon. Sementara dua orang temannya yang tidak sempat menyelamatkan diri tewas diterjang peluru.

Muhajir menceritakan, saat kejadian,dirinya bingung dan panik karena melihat temannya sudah kena dan tersungkur,dirinya melihat kearah asal tembakan yang berjarak sekitar 50 meter dari dirinya.

Hal senada juga disampaikan oleh Makmur,salah satu saksi lain yang nyaris menjadi korban dalam peristiwa itu. Dia melihat pelaku penembakan yang menyebabkan Firman dan Syarifudin meninggal berjumlah sekitar 8 orang.

Menurut Makmur, setelah jatuh dua orang korban, sekitar 8 orang bersenjata lengkap dan berbaju kaos tersebut mendatangi para petani yang sedang mengurus jenazah Firman dan Syarifudin. Kepada Muhajir dan petani lain yang tengah mengurus jenazah Firman dan Syarifudin mereka meminta maaf dan mengaku salah tembak. Hingga Rabu malam, belum ada keterangan dari kepolisian terkait penyerangan terhadap para petani itu.

Sepanjang Januari hingga Juni 2020, tercatat sudah ada 5 warga sipil yang terbunuh. Seorang pemuda bernama Qidam Alfaridzi ditembak oleh Polisi dibelakang kantor Polsek Poso Pesisir Utara pada 8 April 2020 sekitar pukul 23:00 wita. Polisi menyebut pemuda berusia belasan tahun itu sebagai anggota jaringan Ali Kalora, namun pihak keluarga membantahnya. Selanjutnya 2 orang petani di desa Kilo kecamatan Poso Pesisir Utara yakni daeng Tapo dibunuh oleh kelompok Ali Kalora pada 8 April 2020, selang 10 hari kemudian, tepatnya 18 April 2020, papa Angga petani lainnya juga dibunuh kelompok ini. Selanjutnya Syarifudin (25) dan Firman (17) menjadi korban akibat ditembak oleh orang yang oleh saksi, Muhajir disebut sebagai oknum anggota kepolisian yang sedang mengejar kelompok Ali Kalora. Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai insiden ini.
Selain warga sipil, 2 orang yang diidentifikasi sebagai anggota jaringan MIT pimpinan Ali Kalora juga tewas ditembak oleh aparat keamanan pada 15 April 2020 setelah menyerang dan menembak seorang anggota Polisi yang sedang bertugas di bank Syariah Mandiri Poso.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button