Hukum dan Keamanan

Kapolda Janji Tindak Anggotanya Jika Terbukti Bersalah Menembak Petani dan Warga

PALU- Sejumlah tokoh agama Islam Poso berdialog dengan Kapolda Sulteng, Senin 8 Juni 2020. Ada 9 orang tokoh islam Poso yang menemui Kapolda yakni pimpinan pesantren Amanah Hi Adnan Arsal, ketua MUI kabupaten Poso, Arifin Tuamaka, Amin Adnan, Jamil Adnan, Hasanudin, Hamzah, Iki dan seorang tokoh muda, Yudith Parsan. Mereka meminta agar operasi Tinombala segera dituntaskan agar tidak berkepanjangan karena selama ini masyarakat khususnya petani sudah merasa tidak aman.

Hi Adnan Arsal mengatakan, masyarakat yang berkebun ke pinggir bukit tidak aman, karena bisa menjadi korban bila bertemu kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. Sedangkan dibawah, mereka juga belum tentu aman. Apalagi, warga juga merasa khawatir jika dituduh sebagai Banpol atau bantuan Polisi. Sebutan itu menurut beberapa orang petani bisa membuat mereka diincar oleh kelompok Ali Kalora.

Sementara itu Ketua MUI kabupaten Poso, Arifin Tuamaka, kepada Kapolda Sulteng Irjen Syafril Nursal, berharap kasus-kasus pembunuhan terhadap masyarakat harus diproses hukum. Termasuk kasus salah tembak yang dialami 2 orang warga dusun Sipatuo, desa Kilo kecamatan Poso Pesisir Utara Firman (18) dan Syarifuddin (37) meninggal pada 2 Juni 2020 lalu, setelah diberondong tembakan saat tengah beristirahat di pondok kebun.

Meski meminta proses hukum. Namun Arifin Tuamaka juga berharap agar operasi Tinombala bisa menyelesaikan persoalan keamanan di kabupaten Poso khususnya perlawanan kelompok MIT yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Bukan itu saja, keberlangsungan kelompok ini juga karena adanya dukungan dari ‘kelompok bawah’ yakni simpatisan kelompok radikal ini yang tidak ikut masuk hutan.

Menanggapi harapan tokoh masyarakat Poso itu, Irjen Syafril Nursal mengatakan, persoalan di Poso tidak cukup diselesaikan dengan penegakan hukum semata, tetapi harus dibarengi dengan usaha membangun kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat di desa-desa seluruh kabupaten Poso. Menurut Syafril, diperlukan pula penelitian, pengawasan dan kontrol, terutama terhadap kelompok-kelompok yang sering melakukan doktrin untuk mejadi teroris.

Terhadap adanya warga tidak bersalah menjadi korban, kapolda mengatakan hal itu adalah ekses dari operasi. Dia berharap tokoh-tokoh agama di Poso bekerjasama dengan kepolisian untuk mengurangi ekses operasi yang bisa menimbulkan korban masyarakat maupun anggota kepolisian seperti yang terjadi selama ini.

Beberapa peristiwa kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban sepanjang Januari-Juni tahun 2020 ini dimulai dari tanggal 7 April 2020 ketika seorang petani, di desa Kilo diculik lalu dibunuh kelompok MIT. Selanjutnya tanggal 9 April 2020, seorang pemuda bernama Qidam Alfaridzi (18) ditembak Polisi dibelakang Polsek Poso Pesisir Utara karena disangka kelompok teroris MIT.

Kekerasan terus berlanjut, tanggal 15 April 2020, sekitar pukul 9:30 wita, seorang anggota Polri yang hendak berjaga di Bank Mandiri Syariah Poso, diserang dua orang anggota MIT dengan cara ditembak, namun selamat. Kedua pelaku kemudian meninggal setelah ditembak aparat keamanan di dekat TPA kelurahan Kayamanya. Selanjutnya tanggal 19 April 2020, seorang petani biasa dipanggil Papa Angga, warga desa Kilo dibunuh kelompok MIT.

Bulan Juni, kekerasan terus berlanjut, tanggal 2 Juni 2020, empat orang petani, warga dusun Sipatuo desa Kilo yang sedang beristirahat dipondok mereka di kebun kilometer 9 desa Kawende kecamatan Poso Pesisir Utara ditembak aparat dari satuan operasi Tinombala karena disangka kelompok MIT. Dua orang diantaranya, Firman dan Syarifuddin meninggal dunia

Selang lima hari kemudian, Minggu 7 Juni 2020 IPDA Masdar, seorang anggota Satgas Tinombala yang melaksanakan patroli disekitar wilayah Karaopa, desa Kawende, Poso Pesisir Utara ditembak kelompok MIT. Tembakan itu mengenai bahu.

“Itulah dinamika dalam pelaksanaan operasi, hari ini kita yang kena, besok warga masyarakat yang menjadi korban, kali lain pelaku DPO yang menjadi korban, selama operasi berlangsung maka akan menimbulkan ekses”kata Kapolda Irjen Syafril Nursal. Untuk mengakhiri operasi, dia berharap semua pihak bergerak. Mulai dari kementerian pertanian agar membina petani, kementerian kelautan membina para nelayan juga kementerian BUMN membina warga menjadi pengusaha yang benar.

Mengenai kasus Qidam, Syarifudin serta Firman yang tertembak oleh aparat. Kapolda mengatakan sudah dilakukan proses investigasi yang melibatkan Komnas HAM perwakilan Sulteng. Sejumlah petinggi Polri menurut dia turun melakukan pemeriksaan, diantaranya Komandan Pasukan Gegana Korp Brimob Polri Brigjen Pol. Drs. Verdianto Iskandar Bitticaca serta Div Propam Polri Yang dipimpin Karo Provos Brigjen Pol. Ramdani Hidayat, SH. Semua tim melakukan penelitian dan pemeriksaan saksi-saksi di Poso serta melakukan rekonstruksi.

“Kalau memang salah ya harus kita katakan salah. Supaya kepolisian ini terjaga profesionalitasmenya. Kita harus menjaga agar Polri ini tetap profesional dan dipercaya oleh masyarakat,”kata Kapolda Irjen Syafril Nursal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button