Hukum dan Keamanan

Kapolda Khawatir Kelompok MIT Jadi Magnet Bagi Eks Kombatan ISIS dari Luar Negeri

POSO- Kapolda Sulteng Irjen Syafril Nursal mengatakan operasi Tinombala sulit bisa segera diakhiri apabila tidak ada dukungan untuk mencegah adanya perekrutan masyarakat untuk menjadi kelompok teroris baru yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Dalam wawancara dengan radio RRI Palu hari Jumat 12 Juni 2020 kemarin, Kapolda mengatakan, praktek seperti itu menurutnya masih berlangsung. Misalnya dia menyebut ada pesantren yang tidak jelas kurikulumnya, bahkan tidak jelas siapa pengajarnya.

Meski kelompok Majelis Mujahidin Indonesia Timur atau MIT pimpinan Ali Kalora saat ini tinggal 7 orang, namun tidak tertutup kemungkinan banyak simpatisan dari luar yang terus ingin bergabung. Data kepolisian menunjukkan, sejak tahun 2011, sebanyak 172 orang yang termasuk DPO maupun yang hendak bergabung dengan kelompok ini telah ditangkap. Namun tetap saja masih banyak yang ingin bergabung dengan Ali Kalora dan kawan-kawannya, terutama yang dari luar Poso.

Sejak Januari sampai Juni tahun 2020, satgas Tinombala telah menangkap 5 anggota kelompok itu yang berstatus DPO.  Selain itu juga ada 17 orang lainnya ditangkap saat hendak bergabung dengan kelompok MIT, mereka juga kedapatan membawa bahan-bahan peledak untuk kebutuhan pembuatan bom rakitan. Jumlah orang yang berpaham radikal yang mau bergabung dengan kelompok ini memang tidak pernah surut.

Tahun 2016 lalu, jumlah anggota kelompok ini mencapai 41 orang. Kekhawatiran terbesar menurut Irjen Syafril Nursal adalah keberadaan kelompok MIT ini menjadi magnet bagi teroris lainnya untuk ke Sulawesi Tengah. Dia mengatakan saat ini keberadaan 600 kombatan mantan ISIS dari Indonesia di luar negeri tidak diketahui keberadaannya. Meskipun pemerintah Indonesia sudah menyatakan tidak akan memulangkan WNI yang terlibat kelompok ISIS, tapi menurutnya tetap ada kemungkinan mereka tidak tinggal diam untuk mencari jalan kembali ke Indonesia.

Syafril Nursal mengatakan, sepanjang masih ada kelompok Ali Kalora beroperasi digunung dan didukung oleh kelompok simpatisannya yang ada dibawah maka hal itu bisa menjadi daya tarik bagi kombatan-kombatan dari luar Sulawesi untuk datang.

Apabila apa yang disampaikan kapolda Sulteng ini benar adanya, maka bisa dibayangkan, apabila eks kombatan ISIS yang punya pengalaman perang di timur tengah atau Mindanao bergabung dengan kelompok MIT yang punya penguasaan medan maka situasinya akan semakin parah. Karena itu Polda Sulteng terus melakukan pengawasan dan razia di pintu-pintu masuk ke Sulteng baik melalui jalur darat, udara maupun laut.

Pasca pembunuhan 2 orang petani oleh kelompok Ali Kalora dan ‘salah tembak’oleh pihak aparat keamanan yang juga menyebabkan 2 orang petani meninggal, semakin banyak petani mulai dari KM9 sampai KM 14 di desa Kilo hingga desa Kawende kecamatan Poso Pesisir Utara meninggalkan ribuan hektar tanaman kakao, kopi, cengkeh hingga durian mereka.

Bupati Poso, Darmin A Sigilipu dalam wawancara yang sama di RRI bersama Kapolda Irjen Syafril Nursal mengatakan, kondisi masyarakat di Poso Pesisir Utara kini sangat ketakutan sehingga tidak berani lagi pergi ke kebun mereka yang ada dikawasan sepanjang kaki bukit wilayah Poso Pesisir bersaudara.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button