Hukum dan Keamanan

Seorang Petani Poso Kembali Jadi Korban Pembunuhan

POSO- Hari Sabtu 8 Agustus, 2 orang petani asal desa Sangginora kecamatan Poso Pesisir Selatan, AB dan AP disandera oleh yang disebut sebagai kelompok Majelis Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. AP berhasil melarikan diri. Sayangnya AB yang berumur 40 tahun kemudian ditemukan meninggal dunia.

Dalam rilisnya, kabid humas polda Sulteng, Kombes Didik Supranoto mengatakan, kedua petani itu sedang beraktifitas di kebunnya yakni menjaga tanaman jagung diwilayah pegunungan Tahiti desa Sangginora. Saat keduanya sampai di pondok kebun, mereka melihat ada beberapa orang yang tidak dikenal berada di pondok mereka.

Tiba-tiba dari arah belakang keduanya muncul 2 orang tidak dikenal lainnya yang kemudian menggiring AB dan AP untuk bertemu dengan anggota lain kelompok itu yang sudah ada di pondok mereka. Merasa terancam, AP langsung meloncat dan melarikan diri. Tidak lama kemudian, sebuah letusan tembakan terdengar. diduga itu merupakan tembakan yangmembunuh AB yang dilakukan oleh kelompok yang diduga merupakan MIT pimpinan Ali Kalora.

Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol. Didik Supranoto, menjelaskan AB ditemukan oleh tim satgas tinombala bersama warga pada Minggu 9 Agustus kemarin sekitae Pukul 12.30 wita dalam kondisi sudah meninggal dunia

Petugas dibantu warga langsung mengevakuasi korban untuk dibawa ke rumah korban di Desa Sanginora. Tim satgas tinombala saat ini sedang melakukan pengejaran pelaku yang diduga merupakan bagian dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur Poso pimpinan Ali Kalora sebagaimana ciri-ciri yang ditunjuk saksi dalam daftar DPO.

sementara itu, dihari yang sama namun di jam yang berbeda, kelompok MIT juga menghadang rombongan dinas kesehatan kabupaten Poso yang barus pulang dari lembah Napu menuju ke kota Poso. Namun tidak ada korban dalam peristiwa penghadangan itu. Namun petugas dari dinas kesehatan Poso yang menjadi korban penghadangan mengalami trauma.

Pembunuhan terhadap petani di kabupaten Poso, khususnya diwilayah Poso Pesisir bersaudara menambah panjang daftar petani yang tidak bersalah yang menjadi korban kelompok MIT. Data yang dihimpun oleh redaksi bambari lipu menunjukkan sejak tahun 2012 sampai dengan bulan Agustus 2020, sebanyak 21 orang warga sipil terbunuh. 15 orang di kabupaten Poso dan orang di kabupaten Parigi Moutong.

Sebanyak 3 orang korban akibat tembakan Polisi yakni Qidam Movance Alfaridzi pada tanggal 9 April 2020, kemudian Syarifuddin dan Firman pada 2 Juni 2020. Sisanya 18 orang dibunuh oleh kelompok MIT. Banyaknya warga sipil yang jadi korban sepanjang operasi keamanan di kabupaten Poso, oleh Irjen Syafril Nursal disebut hanya sebagai ekses operasi.

Sejumlah kalangan sebelumnya berkali-kali meminta agar dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan operasi keamanan di kabupaten Poso. Direktur LBH Poso, Taufik D Umar mengatakan, evaluasi perlu dilakukan untuk melihat standar operasi prosedur atau SOP operasi keamanan di Poso dan Sulteng. Hal itu menurut dia sangat penting, mengingat saat ini banyak warga sipil termasuk pihak keamanan yang jadi korban.

Selain itu, operasi ini menurut Taufik, juga tidak membuat jumlah orang yang bergabung dengan kelompok MIT berkurang. Sebelumnya, Kapolda Sulteng Irjen Syafril Nursal mengatakan, operasi Tinombala banyak mendapatkan keberhasilan dalam menangkap sekitari 172 anggota kelompok MIT maupun simpatisannya.

Namun operasi penindakan yang dilakukan pihak keamanan tidak cukup tanpa dibarengi dengan upaya memperbaiki kesejahteraan dan pemahaman keagamaan ditengah masyarakat untuk mencegah adanya perekrutan masyarakat untuk menjadi kelompok teroris baru yang dilakukan pihak-pihak tertentu.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button