Hukum dan KeamananSosial

Banyak Kebun di Wilayah Poso Pesisir Utara Tidak Lagi Dikelola

POSO- Sejak gangguan keamanan diwilayah perbukitan sepanjang kecamatan Poso Pesisir Utara muncul dalam 6 tahun terakhir, banyak kebun-kebun warga diwilayah itu ditinggalkan. Para petani khawatir akan keselamatan mereka. Namun disisi lain, kebun itu adalah sumber penghidupan mereka.

Beberapa orang petani mengungkapkan. Bagi mereka yang memiliki kebun atau sawah di kampung atau di dekat kampung, masih memiliki harapan untuk mendapatkan penghasilan. Namun bagi yang hanya memiliki kebun diwilayah yang jauh dari pemukiman seperti di kilometer 8 sampai kilometer 14 desa Kawende, kondisi saat ini sangat berat. Kilometer 8 sampai kilometer 14 merupakan wilayah dimana sering terjadi baku tembak antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata pimpinan Ali Kalora.

Di wilayah ini pula, 4 orang petani meninggal. Dua orang dibunuh oleh kelompok bersenjata pimpinan Ali Kalora, sementara 2 orang lain meninggal karena apa yang disebut diduga salah tembak oleh aparat keamanan dari satgas Tinombala. Paling sedikit 3000 hektar wilayah perbukitan ini telah diolah para petani menjadi perkebunan kakao, cengkeh hingga durian. Namun setelah rentetan peristiwa pembunuhan itu, hampir setengah dari kebun itu ditinggalkan pemiliknya.

Salah seorang petani menceritakan bagaimana pentingnya kebun-kebun itu untuk mereka. Edi misalnya mengatakan, paling sedikit 1 orang yang berkebun di wilayah itu memiliki 4 hektar kakao. Jika satu kali panen mendapat 200 kilogram kakao kering dengan harga 25 ribu rupiah, mereka punya modal 50 juta rupiah. Biasanya jika musim panen, mereka bisa memanen kakao hingga 2 kali dalam sebulan. Sementara yang menanam durian Montong bahkan ada yang memanen sampai 40 ton. Satu kilogram mereka jual seharga 10 ribu rupiah.

Kini para petani berharap agar situasi keamanan di wilayah mereka bisa segera pulih agar mereka bisa kembali mengolah kebun-kebun yang sudah ditinggalkan berbulan-bulan lamanya. Beberapa orang petani ada yang tetap pergi menengok kebunnya secara berkelompok tetapi hanya sekitar 2 jam saja kemudian kembali ke kampung. waktu yang sangat singkat itu tentu saja tidak cukup untuk memanen buah kakao apalagi cengkeh jika musimnya tiba.

Dini, seorang petani lain mengatakan, dia dan suaminya memilih tidak kembali ke kebun mereka diwilayah pegunungan sebelah barat perbatasan desa Kilo dan Kawende karena khawatir jadi korban. Namun pilihan pekerjaan yang ada saat ini juga masih sulit. Salah satu sebabnya karena pandemi Corona menyebabkan banyak pekerjaan konstruksi dihentikan. Akibatnya, suaminya yang juga biasa bekerja sebagai buruh bangunan kehilangan pekerjaan.

Dini sempat berharap mendapatkan bantuan berupa BLT. Namun hingga kini mereka belum menerimanya. Di desa Kilo banyak petani yang terdampak Corona maupun situasi keamanan tidak terdaftar sebagai penerima BLT. Di dusun Sipatuo, desa Kilo misalnya. Dari 90an kepala keluarga diwilayah ini, hampir setengahnya belum mendapatkan BLT.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button