Politik

KPU Gunakan Sosmed untuk Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilih

POSO,Buletinsulawesi.com- KPU Poso berupaya agar seluruh masyarakat menggunakan hak pilihnya pada pemilu serentak 17 April 2019 nanti terutama generasi muda yang baru pertamakali akan menggunakan hak pilihnya.

Berdasarkan data pemilih tetap tercatat ada 7.780 orang calmo pemilih yang duduk di bangku sekolah menengah atas atau sederajat di kabupaten Poso.

Mengajak generasi milenial ini memilih apalagi membicarakan politik tentu bukan hal mudah, dalam banyak publikasi kelompok ini disebut paling tidak tertarik pada politik termasuk pemilu.

Komisioner KPU Poso, Wilianita Selviana mengatakan salah satu upaya yang dilakukan lembaganya untuk mendorong pemilih pemula menggunakan hak pilihnya bukan hanya sekedar melakukan sosialisasi ke sekolah, KPU juga menemui komunitas untuk berdiskusi.

Selain itu untuk lebih membuatnya menjadi praktis adalah lewat aplikasi yang bisa diunduh di gawai untuk sekedar mengecek apakah sudah terdaftar dan informasi penting apa yang perlu diketahui. Model pendekatan berikutny adalah menggunakan sosial media.

Platform seperti Facebook dan instagram digunakan KPU Poso sebagai wadah penyebaran informasi digenerasi muda setelah mencermati kecenderungan mereka yang sangat dekat dengan sosial media.

“Penggunaan sosial media menjadi penting untuk menyampaikan informasi yang benar dan tepat. Kita juga mengklarifikasi informasi hoaks yang banyak beredar di medsos” kata Wilianita.

Menjawab dan meluruskan berbagai informasi yang tidak benar khususnya di dunia maya menjadi pekerjaan berat untuk menjaga kepercayaan kepada KPU sebagai penyelenggara. Kita ketahui beberapa Waktu belakangan serangan hoaks kepada lembaga ini sangat massif dilakukan diantaranya politisasi isu 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos, lalu isu orang gila yang didata sebagai pemilih dan kotak kardus.

Kesemua informasi dan model penyebarannya yang menyasar semua kalangan hampir pasti akan mempengaruhi kualitas pemilu nantinya, misalnya apakah pemilih akan menggunakan hak pilihnya atau bagaimana cara mereka menetapkan pilihannya.

Mendekati pemilih khususnya anak-anak muda untuk menggunakan haknya secara sadar menjadi tantangan berikutnya yang di hadapi oleh penyelenggara pemilu. Model kampanye sebagian besar calon anggota legislatif yang minim informasi tentang ide dan gagasan membuat banyak pemilih akhirnya lebih mengedepankan sikap emosional ketimbang nalar. Tidak heran banyak calon yang terpilih akhirnya juga kebingungan ketika mengemban amanat sebagai wakil rakyat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

Back to top button